Mengupas Tuntas Courtesy Call di Hotel: Bukan Sekadar Basa-Basi, Tapi Penyelamat Review Bintang 5!

Courtesy Call adalah suatu cara dalam berkomunikasi melalui media telepon yang dilakukan dengan etika dan tata cara yang benar
Mengupas Tuntas Courtesy Call di Hotel: Bukan Sekadar Basa-Basi, Tapi Penyelamat Review Bintang 5!

Pernah nggak sih, baru aja nyampe kamar hotel, lepas sepatu, dan baru niat mau rebahan santai... tiba-tiba telepon kamar bunyi?

Pas diangkat, ternyata suara ramah staf Front Office (FO) atau Guest Relation Officer (GRO) di seberang sana. Mereka nanya singkat, "Selamat sore Bapak/Ibu, bagaimana kondisi kamarnya? Apakah AC-nya dingin dan semuanya sesuai harapan?"

Buat tamu yang belum terbiasa, mungkin agak kaget atau mikir, "Wah, rajin amat nih hotel nanyain kabar. Agak ganggu, deh." Tapi di balik layar dunia perhotelan, telepon berdurasi 1-2 menit itu bukan sekadar basa-basi atau iseng nyari kerjaan. Itu adalah prosedur sakral yang namanya Courtesy Call.

Lewat kacamata operasional hotel, courtesy call ini sering kali jadi garis batas tipis antara tamu yang check-out dengan senyum puas, atau tamu yang ngomel-ngomel ninggalin review bintang satu di internet.

Yuk, kita bedah tuntas apa aja yang bikin ritual telepon ini begitu krusial di dunia hospitality!

Apa Sebenarnya Courtesy Call Itu?

Secara sederhana, courtesy call adalah panggilan telepon proaktif dari pihak hotel ke kamar tamu, biasanya dilakukan sesaat setelah tamu check-in dan masuk ke kamar, atau setelah ada request tertentu.

Tujuannya cuma satu: memastikan semuanya sempurna sebelum tamu sempat ngeluh.

Bayangin skenario ini. Tamu masuk kamar, ternyata AC-nya bocor atau amenities di kamar mandi kurang. Kalau hotel nggak inisiatif nanya, tamu yang lelah biasanya malas turun lagi buat lapor. Mereka milih mendumel dalam hati. Ujung-ujungnya? Besok paginya komplain meledak di meja resepsionis saat mau check-out.

Dengan courtesy call, hotel memposisikan diri "menjemput bola". Kita ngasih ruang aman buat tamu ngomong kalau ada yang nggak beres, tepat di detik-detik awal mereka menginap. Resolusi masalah jadi jauh lebih cepat!

Kapan Waktu "Golden Hour" untuk Telepon?

Ini tricky banget. Kalau timing-nya salah, niat baik malah jadi bumerang buat hotel.

Aturan emasnya: 10 sampai 15 menit setelah tamu masuk kamar.

Kenapa harus nunggu 15 menit? Karena di rentang waktu itu, tamu biasanya udah selesai ngecek sekeliling. Mereka udah tahu AC-nya dingin atau nggak, air panasnya nyala atau mati, dan WiFi-nya tembus atau loading doang.

Kalau ditelepon pas tamu baru banget buka pintu, mereka belum tahu kondisi kamarnya. Tapi kalau ditelepon satu jam kemudian? Wah, tamu bisa aja udah keburu tidur siang atau lagi mandi. Mengganggu privasi di jam istirahat itu dosa besar di dunia perhotelan.

Bukan Cuma Asal Ngomong: Ini SOP Telephone Courtesy yang Wajib Dikuasai!

Ngomongin soal berinteraksi dengan tamu via telepon, staf hotel itu nggak bisa asal angkat dan bilang "Halo?". Ada seninya, ada aturannya. Di dunia hospitality, kita kenal dengan istilah Telephone Courtesy.

Entah itu saat staf sedang proaktif melakukan courtesy call, atau saat menerima telepon komplain dari tamu, ada 10 "hukum wajib" alias SOP yang harus nempel di kepala:

  1. Angkat Sebelum Dering Keempat: Jangan biarkan telepon menjerit kelamaan. Maksimal di dering ketiga, panggilan harus sudah dijawab. Kesan pertama bahwa staf itu sigap sangat ditentukan di detik ini.

  2. Jaga Jarak Gagang Telepon: Jangan terlalu nempel ke mulut (nanti suaranya pecah seperti meniup mic), tapi jangan juga kejauhan (nanti dikira bisik-bisik dan tamu susah dengar). Jarak ideal bikin suara terdengar bulat dan profesional.

  3. Salam yang Bertenaga: Ucapkan salam dengan nada yang antusias. Tamu bisa merasakan lho mana staf yang lagi lemas dan mana yang beneran perhatian cuma dari intonasi suara!

  4. Sebutkan Identitas Jelas: "Selamat pagi, dengan Front Desk, saya [Nama], ada yang bisa dibantu?". Sebutkan identitas hotel, departemen, dan nama diri biar tamu tahu persis mereka sedang bicara dengan siapa.

  5. No Bahasa Gaul! Tetap pakai bahasa Indonesia yang jelas dan baku. Usahakan hindari slang atau bahasa gaul. Ingat, tamu datang dari berbagai latar belakang, pakai bahasa formal akan meminimalisir salah paham.

  6. Smiling Voice: Percaya atau nggak, senyum itu bisa didengar! Berbicaralah sambil tersenyum. Suara Anda akan otomatis memancarkan kesan hangat, bersahabat, dan positif di telinga penelpon.

  7. Haram Menahan (Hold) Terlalu Lama: Kalau harus mencari jawaban atau mengecek sistem, jangan biarkan tamu mati gaya di hold kelamaan. Katakan saja jujur, "Saya akan cari tahu dulu, nanti saya hubungi Bapak/Ibu kembali jika jawabannya sudah ada."

  8. Catat Pesan Secara Detail: Kalau penelpon meninggalkan pesan, catat detailnya! Setelah itu, wajib ulangi kembali pesan tersebut untuk memastikan keakuratannya. Biar nggak ada drama miskomunikasi di belakang.

  9. Sebut Nama Tamu: Ini senjata rahasia untuk kedekatan psikologis. Usahakan menyebut nama si penelpon dalam percakapan (misal: "Baik, Bapak Budi..."). Ini bikin percakapan terasa personal.

  10. Jangan Main Tutup Telepon! Ketika selesai, ucapkan terima kasih dan berikan kesempatan lawan bicara menutup telepon duluan. Jangan sampai terdengar bunyi klik kasar dari sisi hotel.

Gimana Kalau Tamu Beneran Komplain Pas Ditelepon?

Nah, ini bagian yang paling bikin deg-degan staf baru. Gimana kalau pas kita telepon buat courtesy call, tamunya malah ngegas karena ada masalah?

Di sinilah mental dan 10 poin Telephone Courtesy di atas diuji. Courtesy call itu haram hukumnya diakhiri dengan janji kosong. Kalau ada komplain, action-nya harus secepat kilat. Dengarkan, validasi komplainnya, beri solusi instan, dan yang paling penting: Follow Up! Pastikan menelepon kembali setelah masalah diperbaiki untuk memastikan tamu benar-benar puas.

Kesimpulan: Sentuhan Manusia di Era Serba Digital

Di zaman sekarang, semuanya serba contactless. Pesan makanan lewat aplikasi, check-in lewat mesin kiosk, bahkan kalau mau minta handuk tinggal chat bot di WhatsApp hotel. Praktis memang, tapi rasanya agak kering.

Nggak ada sistem AI atau robot canggih yang bisa mengalahkan rasa hangat dan empati dari smiling voice manusia asli di ujung telepon yang nanya, "Ada yang bisa kami bantu untuk membuat istirahat Anda lebih nyaman hari ini?"

Courtesy call dan penerapan Telephone Courtesy yang apik adalah bukti nyata bahwa secanggih apa pun teknologinya, roh dari industri perhotelan itu tetap ada di interaksi dan kepedulian.

About the author

Aditya Januardi
Ada kebaikan yang ga akan lahir kalo kamu gak ada

Posting Komentar